Senin, 06 Juni 2011
^_^ Arti Cinta KU
::::::::IBU::::::::
Jumat, 03 Juni 2011
Tanyakan Pada Rumput Yang Bergoyang _ Melly goeslaw
tanyakanlah pada rumput yang bergoyang
sesudi apakah aku padamu
aku tak akan berhenti mencintaimu
sampai aku tak bernyawa lagi
* sebagai manusia yang tahu kaidah
akan ku tanamkan cinta yang sopan
sehidup semati kamu yang hidup
aku yang mati pun tak mengapa
reff:
akan ku latih hatiku ini, siap menerima apa saja
Tuhan ajari aku bersabar, membimbing rasa di hatiku
bila mataku tak bisa lagi menatap wajah cintaku ini
Tuhan tolong beri aku waktu untuk merasakan cintanya
repeat *
repeat reff [2x]
sampai ku buta, bisu, tuli, lumpuh, dan tak bernyawa lagi
Jumat, 27 Mei 2011
PANGERAN IMPIAN II
PANGERAN IMPIAN II
Bimbang di antara dua pilihan
Kalian adalah matahari dan rembulan
Memberi cahaya memberi keindahan
Mengajarkan arti kehidupan
Tiga tahun berlalu, tak kunjung ku temukan jawaban itu, mamah tetap tidak mau menjawab, bila aku bertanya kepada teman mamah, yang aku tahu mamah tidak punya teman dekat, mungkin aku harus bertanya kepada bunda, karena bundalah saudara kandung mamah satu-satunya.
Kata mamah, bunda akan hadir pada acara perpisahan nanti, ya Allah betapa kangennya aku pada bunda setelah hampir sepuluh tahun aku tidak bertemu dengannya, apakah bunda akan pangling melihat keadaannku sekarang, bagaimana kabar ayah dan adik-adik di sana, mungkin adik lala sudah kelas 1 SMA sekarang, adik caca mungkin sudah kelas 2 SMP sekarang dan si bungsu wawa pasti baru kelas 3 SD, semoga mereka semua baik-baik saja aamiin.
Acara perpisahan itupun tiba, di samping aku sangat sedih karena berpisah dengan teman-teman yang selama enam tahun kita bersama-sama, segala hal kita lakukan bersama-sama, kita sudah seperti sebuah keluarga, tapi aku juga merasakan bahagia karena aku bisa bertemu lagi dengan bunda.
Rasa damai menyelimuti hatiku, saat ku lihat senyum tulus bunda, dan ucapan bunda yang mengatakan ”rara anakku”, aku langsung berlari dan memeluk bunda dan serasa tidak ingin melepasnya lagi, tidak terasa air mataku terus meleleh membasahi kerudung bunda.
”kamu sudah besar nak, bunda kangen sekali sama kamu”
”rara juga bunda, rara juga kangen sekali sama bunda”
rasa marah yang ada di benakku waktu itu karena bunda tidak kunjung menjemputku, kini lenyap sudah, yang ada hanya rasa syukur yang tiada tara.
”bunda, mana mamah sita, ko dia tidak datang bunda, apa dia sakit?”
”apa rara, kamu memanggil tante sita apa?”
”mamah bun, memang kenapa bunda, bunda keberatan?”
”tidak, mungkin telinga bunda belum terbiasa mendengarnya”
”bunda, bagaimana kabar ayah dan adik-adik, apa mereka semua baik-baik saja bunda?”
”alhamdulillah mereka semua baik-baik saja, kamu kangen tidak sama mereka?”
”tentu bunda, rara kangen sekali sama mereka”
”kalau begitu kamu tenang saja, karena sebentar lagi kamu akan bertemu dengan mereka”
”maksud bunda apa?”
”iya, karena kamu akan segera pulang, bunda ke sinikan untuk menjemputmu, memangnya tantemu belum cerita?”
”belum, mamah sita hanya bilang, bahwa bunda akan hadir di acara perpisahan begitu saja”
”oh, mungkin tantemu lupa, kamu sudah selesaikan acaranya, ayo sekarang kita segera pulang”
”pulang ke rumah mamah sita?”
”bukan, ya ke rumah kita”
”tapi bunda, rara ingin bertemu dulu dengan mamah sita”
”tidak bisa rara, waktu bunda sangat sedikit, ayo kita segera pulang!”
bunda terus menarik tanganku, dan mengajakku untuk masuk ke dalam mobil.
”bunda kalau bunda tidak mengizinkan aku bertemu dulu dengan mamah sita, bolehkah rara berbicara dengannya di telefon?”
”baik, ayo sekarang kita pergi, biar nanti di jalan kita menelefon tante sita”
aku begitu sayang sama mamah sita, aku tidak ingin berpisah dengannya, tapi di sisi lain aku tidak mungkin menolak keinginan bunda.
Telefon mulai tersambung dengan mamah sita, terdengar suara serak mamah sita di sana, sepertinya dia sudah menangis.
”assalaamu’alaikum mamah”
”wa’alaikum salam wr.wb sayang, bagaimana acaranya tadi lancar?”
”alhamdulillah mamah lancar, kenapa mamah tidak hadir tadi?”
”mamah, mamah tidak akan sanggup nak”
”tidak akan sanggup kenapa?”
”mamah tidak akan sanggup bila harus berpisah denganmu nak”
”rara juga mamah”
lama kami tidak saling bicara, hanya ada suara isak tangis, yang bila terdengar oleh siapa saja, akan membuat hatinya teriris.
”mamah...................”
”iya sayang........”
”rara pulang dulu, terimakasih untuk semuanya, rara sayang banget sama mamah, mamah selalu jaga diri baik-baik ya mamah!”
”iya sayang...........”
”mamah sudah jangan menangis, rara pasti akan sering ngasih kabar sama mamah, rara juga sesekali akan datang menjenguk mamah”
”iya, sayang.............”
klik..telefon di tutup, sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam dan tak henti-hentinya air mata ini meleleh. Mobil terus melaju meninggalkan kota cirebon jawa barat.
Astaghfirullah...................aku begitu terkejut saat mobil di rem mendadak oleh pak gani supir pribadi mamah.
”Astaghfirullah, ada apa gani?”
”itu bu, ada motor yang berhenti mendadak di depan”
motor itu kemudian mendekat, sepertinya aku tidak asing dengan wajah itu, dan ketika ku lihat wanita yang dibelakangnya, dia turun dengan menggunakan tongkat, ya Rabb...........itu mamah sita, aku segera turun dari mobil dan berlari ke arah mamah sita.
”mamah mau ikut kami ke bandung mah?”
”tidak sayang, mamah ingin mencegah kamu, supaya kamu tidak pergi”
bunda keluar dari mobilnya dan menghampiri kami
”apa kamu bilang sita, kamu mau mencegah rara pergi, memangnya kamu pikir rara itu anak siapa?, dia anak aku sita, aku yang mengandung dan melahirkannya, lagi pula, aku rasa sudah cukup aku membiarkan kamu bersama rara selama sepuluh tahun ini, apa kamu belum merasa puas?”
”justru itu kenapa mba mengirimkan rara untuk menemani hidupku, padahal aku sudah terbiasa dengan hidup sendiri, sekarang aku sudah terlanjur menyayanginya, aku merasa sudah memilikinya, aku tak mungkin melepasnya begitu saja”
aku benar-benar tidak bisa berfikir waktu itu, aku merasakan rasa sakit yang teramat dalam, aku menyaksikan dua orang yang aku sayangi bertengkar gara-gara aku.
”bunda............................mamah................”
sejenak mamah dan bunda berhenti bertengkar.
”bunda maafkan rara, mamah maafkan rara, gara-gara rara kalian jadi bertengkar seperti ini”
”tidak nak, ini bukan salah kamu, memang tante kamu saja yang tidak tahu diri”
”bunda jangan bicara seperti itu sama mamah sita, sebagai saudara kandung mamah sita, seharusnya bunda lebih peka terhadap perasaa mamah sita”
”dengarkan apa kata rara, lagi pula kamu kan masih punya anak-anak yang lain, mengapa kamu harus mengambil milikku satu-satunya?”
bunda dan mamah kembali lagi bertengkar.
”sekarang kita serahkan keputusannya kepada rara, dia mau memilih ikut aku, atau tetap denganmu di sini”
”baik, itu usulan yang bijak”
mereka berdua kemudian memandangiku.
”rara, sekarang kamu mau memilih bunda atau tante sita?”
”bunda jangan berbicara seperti itu, rara sayang sama kalian, rara tidak mungkin memilih di antara kalian berdua”
aku terdiam cukup lama, ku pandangi mata mereka satu persatu.
”rara, jika kamu ikut mamah, mamah akan jawab pertanyaan kamu itu”
”rara, apa kamu tidak merasa kangen pada ayah dan adik-adikmu?”
aku lantas melangkahkan kaki menuju bunda.
”rara kamu tega, jadi kamu lebih memilih bunda kamu, kamu telah menyakiti hati mamah.”
mendengar kata-kata mamah sita, akupun langsung berbalik dan menghampiri mamah sita.
”jadi kamu lebih memilih tante sitamu itu dari pada bunda, kalau begitu sia-sia saja bunda datang kesini, kamu telah menyakiti hati bunda”
dadaku terasa begitu sesak, mendengar kata-kata itu, kepalaku pusing mungkin karena menahan rasa sakit, dan air mataku tidak henti-hentinya meleleh. Aku kemudian ambruk dan berlutut di tengah-tengah bunda dan mamah.
”sesungguhnya bukan mamah yang merasakan sakit, bukan bunda yang merasakan sakit, tapi yang paling merasakan sakit itu adalah rara, rara begitu menyayangi kalian, rara tak mungkin memilih di antara kalian, rara mohon mengertilah!”
rasa iba terlihat di wajah mereka berdua, merekapun lantas mendekat dan memelukku.
”kamu benar sayang, maafkan kami telah menyakitimu, mamah dan bundamu tidak sepantasnya berperilaku seperti ini”
kata-kata mamah barusan, seperti oase yang menyejukkan hatiku, begitu damainya aku berada dalam pelukan mereka, mereka pun saling meminta maaf, dan mamahpun mengikhlaskan aku untuk pergi bersama bunda.
Jawaban itu masih menjadi sebuah misteri, aku malah harus meninggalkannya sebelum sempat aku memecahkannya , tapi aku yakin bila aku kembali nanti, aku pasti sudah menemukan jawabannya.
....................bersambung...................................
Rabu, 25 Mei 2011
Khusnul Khotimah
terangkanlah.. terangkanlah..
jiwa yang berkabut langkah penuh dosa
bila masa tlah tiada
kereta kencana datang tiba-tiba
airmata dalam luka tak merubah ceritanya
hanya hening dan berjuta tanya
dalam resah dalam pasrah
terangkanlah.. terangkanlah..
hati yang mengeluh saat hilang arah
detik waktu yang memburu
detik yang tak pernah kembali padaMu
terangilah.. terangilah..
bimbing kami dalam langkah
ampunilah.. maafkanlah..
dosa hidup sebelum di akhir masa
ya Allah biha ya Allah biha
ya Allah bi khusnul khotimah
ya Allah biha ya Allah biha
ya Allah bi khusnul khotimah
PANGERAN IMPIAN I
PANGERAN IMPIAN I
Kekuranganmu merupakan kelebihan untukku
Keterbatasanmu merupakan kebanggaan untukku
Bagiku kamu adalah sosok paling istimewa
Yang dikirimkan Tuhan untuk menemaniku
Ini April ke empat yang dijanjikan bunda untuk menjemputku, aku merasa semua ini tidak adil untukku, mengapa bunda seolah membuang aku, mengapa bunda seolah mengasingkan aku ke tempat ini, ingin rasanya aku berontak, tapi apa daya aku hanya seorang perempuan lemah, aku masih terlalu kecil untuk melawan semua keinginan orang tuaku.
Bersama tante aku tidak diberi kebebasan sama sekali, waktu untukku main sangat sedikit, aku di paksa belajar, membantu semua pekerjaan rumah, aku harus mencuci bajuku sendiri, menyetrika bajuku sendiri. Semua pekerjaan ini belum pernah aku lakukan di rumah bunda. Bersama bunda aku selalu diberi kebebasan, semua pekerjaan rumah di lakukan oleh bi sumiati, tapi sejak bunda melahirkan anak yang ke empat, dan bunda di sibukkan dengan urusan bisnisnya, aku sebagai anak pertama terpaksa harus bunda titipkan kepada tante sita.
Tak terasa sudah empat tahun di sini, segitu sibuknyakah bunda, sehingga bunda tidak kujung menjemputku, aku begitu merindukan bunda, adik-adik, ayah dan semua yang ada di rumah. Di sisi lain aku mearasa begitu terpaksa berada di sini, tapi entah mengapa aku begitu menikmatinya, aku merasa tante sita adalah sosok bunda yang selama ini aku inginkan, walau tante sita suka memaksakan kehendak, suka mengatur-ngatur, tapi dia begitu perhatian dan yang paling penting dia mencurahkan kasih sayangnya hanya untukku. Beda waktu aku bersama bunda, walau aku diberi kebebasan, tapi aku kurang perhatian bunda, karena bunda sangat sibuk, dan kasih sayang bunda harus dibagi kepada adik-adik.
Selain terpisah dengan keluarga, aku juga terpisah dengan sahabat-sahabat di sekolahku, aku harus pindah sekolah dan sekolah disini, berkat peraturan yang ditetapkan tante, di sini aku menjadi siswa yang berprestasi, aku selalu masuk tiga besar, bahkan pelajaran yang dulunya sangat aku benci, dengan latihan dan dukungan tante sita aku jadi menyukainya.
***
Perlahan aku mulai menyayangi tante sita, tante sita juga menyukai perubahan-perubahan dalam sikapku, kini dia tidak perlu ingatkan aku ini itu, menyuruhku ini itu, karena dengan sendirinya aku sudah melakukannya. Tak terasa sebentar lagi aku akan keluar dari SD, aku serahkan sepenuhnya kepada tente sita aku harus melanjutkan sekolah kemana.
Tak pernah ku duga ternyata tante sita memasukkan aku ke sebuah madrasah tsanawiyah yang berbasis pesantren, selain bersekolah aku juga harus mondok disana. Aku begitu keberatan dengan keputusan tante sita, apa bedanya tante sita dengan bunda, tante sita juga membuang dan mengasingkan aku, tante sita tetaplah tante sita walaupun aku sudah merengek-rengek supaya dia membatalkan rencananya, tapi dia tetap saja bersikukuh pada keputusannya.
Awal mula aku masuk pesantren, aku merasa sangat-sangat tidak kerasan, peraturan yang dibuat oleh pesantren itu lebih banyak dari pada peraturan yang dibuat oleh tante sita, tak ada lagi waktu untuk bermain, waktuku digunakan untuk sekolah, belajar dan mengaji, di pesantren juga aku dididik untuk lebih mandiri lagi.
Tante sita mengunjungiku setiap seminggu sekali, untuk sekedar melihat keadaanku atau memberikan bekal, aku tidak pernah diperbolehkan pulang kerumahnya, kecuali atas alasan sakit atau keperluan yang sangat mendesak, begitu teganya tante sita kepadaku, tapi tante sita suka berkata ”semua ini demi kebaikanmu sayang”.
Di pesantren aku bisa menemukan banyak hal baru, sahabat-sahabat baru, terutama aku bisa merasakan indahnya kebersamaan, kita seperti sebuah keluarga yang saling menyayangi karena Allah. aku mulai merasa aku begitu beruntung berada di temapat ini.
***
Tiga tahun berlalu, teman-teman sudah mulai membicarakan kemana kita akan melanjutkan pendidikan, apakah akan tetap di sini, atau melanjutkan ke sekolah yang lain. Tante sita menyerahkan semua keputusan kepadaku, apa benar aku sudah dianggap dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri. Mengapa di saat aku masih kecil aku tidak suka dipaksa-paksa dan ingin menentukan pilihanku sendiri, tapi sekarang di saat aku di beri kebebasan untuk memilih, aku malah bingung, dan beranggapan lebih baik dipilihkan dari pada memilih sendiri, karena apapun yang dipilihkan tante sita, itu pasti yang terbaik untukku.
”rara, kenapa kamu diam saja nak?”
”rara bingung tante, rara kerasan disini, tapi rara juga ingin mencari pengalaman baru, rara juga rindu sekali sama bunda, ayah dan adik-adik”
”ya sudah sekarang kamu telefon saja dulu bunda, minta pendapat beliau seperti apa ya !”
”tapi tante......................”
”tapi apa?”
”apakah bunda masih ingat sama aku”
”Innalillahi rara kenapa kamu ngomong seperti itu? tentu saja mereka masih ingat kamu dan begitu merindukan kamu, ayo sekarang coba kamu telefon bunda”
Tut...tut...tut... telefon mulai tersambung, tapi tidak kunjung diangkat juga oleh bunda.
”tante, bolehkah rara mengajukan permohonan?”
”tentu saja, apa itu sayang?”
”bolehkah rara menyerahkan semua keputusannya sama tante, kemana rara akan melanjutkan sekolahku?”
”apa kamu benar-benar serius dengan ucapan kamu ini nak?”
”iya, tante”
”kalau menurut tante, untuk memantapkan ilmu yang kamu punya, lebih baik kamu tetap disini melanjutkan sekolah dan pesantrenmu disini”
”baiklah tante, aku akan tetap disini, terimakasih ya tante”
”sama-sama anakku”
”satu lagi, bolehkah rara memanggil tante dengan panggilan ’mamah’?”
mata tate sita tampak berkaca-kaca mendengarnya.
”tentu saja boleh sayang”
aku kemudian memeluknya, dalam pelukannya, aku benar-benar merasa damai
”terimakasih mamah”
Setelah mamah pergi, aku segera bergegas ke asrama putri untuk melanjutkan aktifitasku, aku menghentikan langkahku, saat ku dengar salah satu santri putri mengolok-olokku
”kasihan banget ya rara pintar, cantik , tapi sayang punya mamah yang cacat”
”apa kamu bilang mamah ku cacat?, mamahku tidak cacat, dia hanya punya kekurangan sama seperti kita, bukankah tidak ada manusia yang sempurna?”
”jelas-jelas dia tuh cacat, dia hanya berjalan dengan satu kaki, ko bisa ya bapak kamu mau menikahi perempuan cacat kaya mamah kamu itu”
aku berkata dengan nada setengah berteriak
”diam.................kamu, kalau kamu benci sama aku, kamu gak usah menghina mamah aku seperti itu”
aku tak kuasa mendengar hinaan yang ditujukan untuk mamah sita itu, hatiku merasa begitu sangat sakit, aku tak kuasa membendung air mataku.
Mendengar ada keributan, dan juga tangisan, para santri yang lain lalu bermunculan, aku dan santri putri yang bernama wita itu lalu dibawa ke pengurus. di dewan keamanan santri aku dan wita di introgasi, aku lalu menceritakan kronologis kejadian yang sesungguhnya, dewan keamanan santri lalu menyuruh wita untuk meminta maaf, akupun memaafkan wita dan memintanya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
***
Entah dari siapa mamah sita mengetahui kejadian yang menimpaku di pesantren beberapa hari ke belakang, saat dia menjengukku, mamah lantas menanyakan aku tentang kebenaran kejadian itu, dan begitu menyayangkan atas apa yang telah terjadi, dia lalu meminta maaf kepadaku.
”kenapa mamah meminta maaf?”
”gara-gara mamah kamu jadi berantem sama temanmu nak?”
”tidak mamah, ini semua bukan salah mamah”
mamah sita lantas menangis , kemudian memelukku.
”kamu adalah harta mamah yang paling berharga dalam hidup mamah, untuk pertama kalinya, mamah merasa jadi orang yang istimewa, mamah sayang banget sama kamu nak”
” rara juga sayang banget sama mamah. mah, bolehkah rara tanya sesuatu?”
”tentu saja boleh, tentang apa?”
”mah, maaf apakah mamah tidak punya keinginan untuk menikah?”
”tentu saja sayang mamah ingin seperti yang lain, punya keluarga, punya suami dan anak, tapi seperti yang kamu lihat sendiri mamah punya keterbatasan, mamah takut keterbatasan yang mamah miliki ini malah akan membebani orang lain”
”tapikan menikah itu sunnah Rasul mamah?”
”iya sayang, mamah tahu itu, tapi bila mamah menikah itu malah akan membuat suami dan anak mamah menderita”
”Astaghfirullah, kenapa mamah berfikiran seperti itu?, mamah tidak akan menjadi beban untuk orang lain, karena mamah sudah membuktikan sendiri dengan kemandirian mamah, bahkan mamah bisa mengurus aku sampai aku menjadi seperti ini. Mamah juga tidak akan membuat suami dan anak mamah menderita, malahan mungkin mamah akan membuat mereka menjadi orang yang paling beruntung seperti yang aku rasakan”
”Benarkah kamu merasa beruntung kalau misal kamu memiliki ibu seperti mamah?”
”tentu saja mamah”
”lalu apa alasan kamu?”
”karena mamah di sayang oleh Allah, mamah adalah manusia terpilih yang diberi ujian seperti ini, karena Allah tahu mamah mampu melewati semua ini dengan kesabaran dan keikhlasan”
”tapi tidak semua orang berfikiran seperti itu nak”
”rara yakin Allah menciptakan setiap hambanya berpasang-pasangan”
”ya, bunda tahu itu, tapi ada hal yang tidak kamu mengerti dan tidak kamu ketahui nak”
”apa itu mamah? apakah maaf tidak pernah ada laki-laki yang datang untuk melamar mamah?”
”sebenarnya ada”
”lalu, kenapa mamah tidak menerimanya? apa mamah terlalu pilih-pilih?”
”Astaghfirullah......... bukanitu nak”
”lalu apa mamah?”
”mamah terlanjur merasa hina”
”merasa hina kenapa mamah?”
”sudahlah mamah tidak mau mengingatnya lagi, mamah pulang dulu, kamu selalu jaga diri kamu baik-baik ya nak! mamah sayang kamu, assalaamu’alaikum”
belum sempat aku bertanya tentang penjelasan apa yang membuat mamah merasa hina itu, mamah malah pergi, aku bertekad akan mencari tahu makna dari ucapan mamah tersebut, bila mamah tidak mau menjawabnya, lantas harus kepada siapa aku bertanya?
.............................bersambung..................
Created by : Ade ita fatimah
Selasa, 24 Mei 2011
INGAT TOMAT !!!

Wali – Tomat (Tobat Maksiat)
dengarlah hai sobat
saat kau maksiat
dan kau bayangkan ajal mendekat
apa kan kau buat
kau takkan selamat
pasti dirimu habis dan tamat
bukan ku sok taat
sebelum terlambat
ayo sama-sama kita taubat
dunia sesaat
awas kau tersesat
ingatlah masih ada akhirat
astafighrullahal’adzim
reff:
ingat mati, ingat sakit
ingatlah saat kau sulit
ingat ingat hidup cuman satu kali
berapa dosa kau buat
berapa kali maksiat
ingat ingat sobat ingatlah akhirat
cepat ucap astafighrullahal’adzim
pandanglah ke sana
lihat yang di sana
mereka yang terbaring di tanah
bukankah mereka
pernah hidup juga
kita pun kan menyusul mereka
astafighrullahal’adzim
repeat reff
cepat ucap astafighrullahal’adzim
Downloud lagunya Disini